BELAJAR DARI PENYESALAN BHISMA

Rsi Bhisma yang Agung, akhirnya runtuh menyentuh bumi. Tubuh yang nampak ringkih ditembusi anak panah. Panah itu dari cucunya, Putra Kunti. Cucu yang sering duduk di pangkuan Bhisma. Kini Bhisma merenunginya. Penyesalan dan kegagalan melindungi Hastinapura dan membiarkan bahkan menyulut perang saudara Dinasti Kuru. Yang sulit adalah memerangi diri sendiri dari ego dan merasa.

JMA I Ketut Puspa Adnyana

1/2/20263 min read

Sembah sujud dihadapan Maharsi Vedavyasa, yang telah mengkodifikasi ajaran Veda menjadi empat, juga Smerthi. Memohon bimbingan dan perlindungan kepada Sri Ganesha dan pengetahuan kepada Dewi Saraswati. Kepada tiga entitas mahasuci yang melahirkan pustaka suci Veda. Memohon ampunan agar ten keneng upadrawa. Bawalah kami pada jalan yang terang benderang dan sejuk lembut, cahayaMu”.

Sang perkasa, pelindung Hartinapura, Bhisma Yang Agung terbaring beku di sisi padang kuru ksetra. Ia tidak merasakan sakit atas panah-panah yang melukai badannya. Arjuna cucunya telah membuatnya tidak berdaya dan membuatnya bangga. Darahnya menetes perlahan. Setiap tetes darah membangun kisahnya sendiri dan beban Bhisma berkurang.

Semakin banyak darah yang menetes kemurniannya semakin bangkit. Ia menatap wajah ayahnya, yang ia cintai melebihi dirinya sendiri. Ayahandanya yang perkasa, Maharaja Sentanu, yang memberikan anugrah Bhisma dapat memilih hari kematiannya. Itulah sebabnya ia masih hidup sampai akhir perang besar saudara sepupu itu, menunggu utarayana, waktu baik pulang ke asal.

Bhisma meratap: “Ayah ini tugas terakhirku menjaga Hastinapura, Engkau sudah tahu siapa pemenang dari perang ini”. Bhisma hanya melihat senyum kasih ayahandanya. Lalu meredup. Ia memejamkan mata. Namun ia dapat mengingat dengan jelas peristiwa di paseban Hastinapura, menantu Hastinapura dilecehkan di persidangan agung itu sementara ia tidak mampu menolongnya. Kini ia seonggok daging yang satupun Srigala tak berminat.

Susasana menjambak dan menyeret Drupadi untuk ditelanjangi, masih berbekas di benaknya, membuat Bhisma mendesah. Ia memejamkan matanya sangat dalam, seandainya itu adalah jepitan baja, pasti matanya hancur berantakan. Ia mendesah mengapa hal ini bisa terjadi? Terdengas nafasnya menderu kemudian melemah.

Mengapa saat itu aku diam seribu bahasa ketika menantu Hastinapura Drupadi membutuhkan bantuanku. Bukankah aku pelindung Hastinapura? Penyesalan lahir dari ketidakwaspadaan pada saat bertindak. Manas dan wiwekajnanam tidak dipergunakan. Manusia tersesat oleh egonya sendiri dan kabur atas kebenaran. Ketika darahnya habis, Bhisma merasakan ktidakberdayaannya. Bukan lagi Bhisma yang Agung.

Disisi lain, Bhisma masih mendengar kata kata Sri Krishna: “Engkau tidak melaksanakan dharma Bhisma yang Agung, engkau hanya mementingkan diri dan kelompokmu. Engkau tidak memahami sesungguhnya ajaran dharma. Engkau hanya mementingkan kerabatmu dan Hastinapura”.

Belum pernah ada satu orangpun yang menegur Bhisma bahkan mencelanya. Kini di hadapan Paduka Sri Krishna ia menyadari kesalahannya, yang membuatnya menyesal. Ia sudah merasa tercabut nyawanya meskipun badannya masih bergerak saat itu. Bhisma terlalu lama lupa, baru sadar ia berhadapan dengan Tuhan sendiri dalam wujud manusia. Tampak ada aliran air dari matanya, kepedihan yang mendalam. Ia menghela nafas, yang membuatnya tenang.

Dalam ketenangannya itu ia mendengar bentakan keras gurunya Maharsi Rama Parasu: “Engkau harus menikahi Dewi Amba, bila tidak engkau harus berhadapan denganku Bhisma”. Bhisma yang terbaring lemah, merasa ia tidak lagi perkasa.

Bhisma dan Rama Prasu kemudian berperang, yang satu menegakkan sumpahnya yang satu menjaga kebenaran dan etika. Guru dan murid berperang karena sama-sama menjaga kebenarannya masing masing, mungkin lebih tepat egonya. Bhisma menyesalinya, karena ia menentang gurunya. Tidak ada hal yang lebih besar dosanya dari menghina guru, keluh Bhisma, apalagi memeranginya. Ia menggeleng gelengkan kepalanya, namun tidak bergerak karena disangga panah.

Bhisma teringat kata kata Sri Krishna: “Tradisi terus berubah Bhisma yang Agung. Karena hanya perubahan yang abadi. Saat mangga berwarna hijau dan kecut, ada kelompok orang menyukainya, sementara kelompok yang lain menyukai ketika mangga itu matang, manis ada rasa kecut. Namun ketika mangga itu melewati masaknya ia terabaikan tidak satu orangpun menyukainya. Engkau seharunya memperhatikan sifat dari perubahan ini dan membatalkan sumpahmu”.

Bhisma mengenang semua kekeliruannya itu. Yang tidak bisa ia lupakan, kata ibunya Dewi Gangga: “Saat mengambil keputusan engkau tidak berbicara dengan ibu, sekarang engkau baru meminta pendapatku. Lakukanlah apa yang engkau anggap memenuhi hatimu Bhisma, anakku, Kepulangamu lebih bagus”.

Malam semakin gelap, bintang bintang nun jauh di cakrawala menenangkan hati Bhisma. Penyesalan memang selalu hadir di akhir sebuah kisah perbuatan seseorang. Pada hari hari berjalan ini, setiap orang melakukan kontemplasi, mulat sarire dan menemukan seluruh perbuatannya. Ada yang disesali dan ada yang disyukuri. Itulah kehidupan suka dan duka silih berganti, dan---Anda tidak dapat hanya memilih suka, sebagaiama harapan semua manusia. Namun itulah yang dikisahkan para leluhur, bahwa kenangan akan berdatangan ketika waktu pulang ke asal sejati sudah mendekat. Akhirnya Bhisma kembali dan berkumpul dengan delapan para Wasu. Entitas gaib di kahyangan. Rahayu.