RENUNGAN DINIHARI 141
Dalam hidup ini sebaik apa pun yang dikerjakan selalu saja ada orang yang tidak suka atau benci. Ini adalah situasi yang sangan wajar dan niscaya. Mengelola para pembenci ini membutuhkan kesabaran, dengan mengacuhkannya, alam akan mengambil alih.
JMA I Ketut Puspa Adnyana
1/27/20261 min read
RENUNGAN DINIHARI 141
“Dalam setiap tindakan Anda, selalu ada tiga respons, yang suka, yang benci dan yang acuh. Agar hidup Anda tenang dan damai, perhatikanlah dengan baik dan waspadai orang yang membenci Anda dengan cara mengabaikannya. Anda akan mengalami kelelahan bila terlalu fokus pada orang yang membenci Anda. Dengan mengabaikannya, alam semesta akan mengelolanya dengan baik”.
MAKNA:
Pertama, pengamatan tentang tiga respons—suka, benci, dan acuh—adalah pengakuan jujur atas hukum relasi manusia. Dalam perspektif dharma dan juga sosiologi, ini menunjukkan bahwa tidak ada tindakan yang netral secara sosial: setiap laku selalu memantul dalam kesadaran orang lain dengan spektrum penerimaan yang berbeda. Maka, mencari penerimaan universal adalah ilusi yang melelahkan.
Kedua, penekanan pada “orang yang membenci” bukan untuk memerangi, melainkan untuk mewaspadai tanpa larut. Ini sejalan dengan ajaran upeksa (keseimbangan batin) dalam etika spiritual: tidak reaktif, tidak defensif berlebihan, dan tidak menyeret ego ke medan konflik. Kebencian orang lain sering kali bukan tentang diri kita, melainkan tentang luka, kecemasan, atau kepentingan yang tidak terpenuhi dalam diri mereka sendiri.
Ketiga, ajakan untuk mengabaikan di sini bukan berarti apatis atau lari dari tanggung jawab moral. Ia lebih tepat dipahami sebagai penghematan energi kesadaran. Fokus berlebihan pada kebencian orang lain menguras prana batin dan menjauhkan kita dari tugas utama: bertindak benar dan sadar. Dalam bahasa karma, terlalu sibuk pada reaksi orang lain berarti kita membiarkan karma eksternal mengendalikan karma internal.
Keempat, kalimat penutup—“alam semesta akan mengelolanya dengan baik”—mengandung sikap pasrah aktif (prasadha buddhi). Ini bukan fatalisme, melainkan kepercayaan bahwa hukum kosmis (ṛta/dharma) bekerja melampaui kendali ego manusia. Ketika seseorang tetap lurus pada niat dan tindakan, semesta—melalui waktu, sebab-akibat, dan kesadaran kolektif—akan menempatkan segala sesuatu pada porsinya.
Refleksi penutup:
Renungan ini mengajarkan bahwa ketenangan bukan lahir dari mengalahkan kebencian, tetapi dari tidak memberi kebencian tempat tinggal di dalam batin. Damai bukan karena dunia berhenti menilai, melainkan karena diri berhenti menggantungkan makna hidup pada penilaian itu.
Batukaru, 28-01-2026.
Brand
Explore our sleek website template for seamless navigation.
Contact
Newsletter
info@email.com
Oo
© 2024. All rights reserved.