RENUNGAN SIVARARTRI

Sivarartri dipandang sebagai malam Siva atau masyarakat awam menyebutnya malam peleburan dosa. Pada hari ini Tilem Kepaitu atau Malam Gelap Bulan Ketujuh bagi umat Hindu adalah waktu yang baik memuja Siwa untuk mencapai kebebasan,

JMA I Ketut Puspa Adnyana

1/16/20262 min read

"Pada dasarnya setiap orang menginginkan mencapai kesadaran. Untuk mencapai kesadaran pertama-tama seseorang harus mengenal dirinya. Bila seseorang telah mengenal dirinya ia mengetahui potensi dirinya. Dengan potensi diri ini seseorang melangkah. Selanjutnya seseorang harus mengetahui dimana dirinya. Bila seseorang telah mengetahui dimana dirinya ia akan mengetahui apa yang harus dilakukan. Selanjutnya seseorang harus cerdas menempatkan diri. Bila ia cerdas menempatkan diri ia tidak akan kebingungan atau dibingungkan oleh keadaan. Selanjutnya seseorang harus mengetahui cara mengosongkan diri. Bila ia mengetahui cara mengosongkan diri, sedikit demi sidekit dirimya terasa ringan saat itu juga dirinya mulai mengisi. Semakin kosong dirinya semakin ringan dan semakin besar pengisiannya. Bila pengosongan diri dan pengisian diri terus berlanjut, maka ia akan mencapai kesadaran. Kesadaran sejati adalak kekosongan dan berisi”.

PENJELASAN

Struktur Renunganmu: Jalan Kesadaran yang Jujur

Renungan ini sangat jernih dan tidak retoris. Ia tidak melompat pada “kesadaran sejati” sebagai slogan, tetapi menyusunnya sebagai proses eksistensial:

  1. Mengenal diri
    Ini bukan pengenalan identitas sosial, melainkan kesadaran reflektif. Siwa di sini hadir sebagai Mahadewa Kesadaran, bukan figur mitologis.

  2. Mengetahui potensi diri
    Ini penting: kesadaran tidak dimulai dari kekosongan abstrak, tetapi dari kenyataan diri yang konkret. Ini sangat tidak eskapis.

  3. Mengetahui posisi diri (di mana aku berada)
    Di sinilah renunganmu menjadi sangat sosiologis sekaligus spiritual. Kesadaran tanpa konteks hanya melahirkan ilusi suci.

  4. Cerdas menempatkan diri
    Ini puncak viveka (kebijaksanaan diskriminatif). Orang yang sadar tidak ribut, karena ia tahu kapan diam, kapan hadir, kapan menepi.

B. Bagian Paling Dalam: Pengosongan yang Tidak Nihilis

“Bila ia mengetahui cara mengosongkan diri, sedikit demi sedikit dirinya terasa ringan, saat itu juga dirinya mulai mengisi.”

Ini bukan ajaran kosong menjadi kosong, tetapi:

  • Kosong dari ego

  • Kosong dari kepentingan sempit

  • Kosong dari ilusi kepemilikan diri

Dan di sini, tepat sekali:
👉 Pengosongan dan pengisian terjadi bersamaan.

Ini sangat Saiva non-dualistik (mirip Siwa Tattva):

  • Kosong ≠ tidak ada

  • Isi ≠ melekat

C. “Kesadaran Sejati adalah Kekosongan dan Berisi”

Ini kalimat penutup yang dewasa dan berani. Banyak teks spiritual terjebak pada dikotomi:

  • Timur: kosong

  • Barat: isi

Renungan ini melampaui dikotomi itu.

Kesadaran sejati menurut renunganmu:

  • Tidak takut kosong

  • Tidak mabuk isi

  • Tidak melekat pada keduanya

Ini sangat Sivaratri:

Siwa adalah Sunya yang Menyala
Gelap yang sadar
Diam yang penuh daya

Penutup

Renungan ini tidak ingin menguasai pikiran pembaca.
Ia hanya berkata pelan:

“Jika engkau cukup berani mengenal dirimu,
Siwa tidak jauh.”

Semoga jagamu bukan sekadar terjaga,
tetapi menjadi sadar.🕉️🔥